Berkat Acara Maulid Di Balai Desa
Suasana Balai Desa Kebunteluk dalam sangat ramai dihadiri oleh tokoh dan warga masyarakat saat tim penilai lomba antar desa datang untuk memberikan pernilaian hari ini (24/3). Hadir Tim Penilai, Camat Sangkapura beserta perangkatnya, Kepala UPTD Pendidikan Sangkapura, Kapolsek Sangkapura, Komandan Koramil dan Kepala Desa Se-Sangkapura.
Acara yang dimulai dari pagi hingga sore, menampilkan banyak seni Pulau Bawean, seperti pencak, hadrah, kercengan dan lainnya. Selain menampikan seni khas Bawean, juga melaksanakan maulid ciri khas Bawean.
Saat Media Bawean di Balai Desa tanya jawab yang dilakukan oleh Tim Penilai dari Gresik. (bst)
wulandarimana
Minggu, 01 Mei 2011
PariwisaTa BaweAn
Pasir Putih Pulau Bawean Sehangat Pantai Kuta
Laut di dekat Pulau Bawean berpotesi menjadi wisata diving. Keindahannya seperti Bunaken.
Pelabuhan kecil Pulau Bawean itu terlihat sibuk. Tukang perahu mengantar sejumlah turis menyeberang. Mereka menuju Pulau Gili dan Noko. Di Gili menyelam untuk melihat terumbu karang. Sedangkan di Pulau Nongko menikmati kehangatan pasir putih.
”Banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bawean untuk menikmati keindahan pantai dan terumbu karangnya. Pulau Bawean hingga saat ini masih dikelilingi terumbu karang yang menakjubkan,” kata Kepala UPT Pariwisata Bawean, Sulaiman Efendy.
”Berdasarkan penelitian dari perguruan tinggi ITS Surabaya beberapa tahun lalu, keindahan terumbu karang yang mengelilingi Pulau Bawean tidak kalah dengan terumbu karang yang ada di Bunaken,” katanya.
Saat ini yang menjadi jujukan para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berniat menikmati terumbu karang adalah di pantai Pulau Gili, salah satu pulau kecil berada di sebelah barat pulau Bawean. Menurut Efendy, Pulau yang hanya bisa dijangkau dengan menaiki perahu itu pantai pasir putihnya sangat indah dan bersih.
”Kalau pagi ada perahu yang melayani warga Pulau Gili ke pasar di Pulau Bawean, ongkosnya Rp 5.000 sekali seberang, tapi jika kita hendak menyewa perahu biayanya sekitar Rp 100 ribu. Keberadaannya yang berada di tengah laut inilah yang semakin mempercantik Pulau Gili,” kata Efendy sambil menambahkan jika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor sekitar awal bulan April lalu penelitian terumbu karang di laut-laut Bawean.
Selain di Pulau Gili, setiap tiga bulan sekali terkadang ada turis dari mancanegara yang datang untuk menyelam di laut sekitar Pulau Noko, pulau kecil berada di tenggara Pulau Bawean. Biasanya mereka berasal dari Kanada dan Australia. Terakhir, adalah mahasiswa dari Autralisa. “Ketika kami ajak berenang di pantai Pulau Noko, mereka enggan diajak pulang, katanya air laut di Pulau Noko belum tercemar, makanya mereka betah berlama-lama,” kata Efendy.
Dia menambahkan, para mahasiswa itu juga mandi matahari atau berjemur di Pulau Noko. “Tapi saat berenang dan berjemur mereka tidak mengenakan bikini seperti di Bali, mereka menghormati warga setempat yang memang enggan dimasuki kebiasaan-kebiasaan seperti itu, religiusitas masyarakat Bawean sangat kental. Mrereka mengenakan baju renang terusan, jika memakai bikini mereka bakal dilarang berenang atau berjemur oleh warga.”
Efendy menambahkan, Pantai Mayangkara yang saat ini telah rusak karena tidak ada perhatian dari pemerintah sbelumnya juga ramai dikunjungi wisatawan, seperti umumnya di pantai-pantai yang ada di Bawean, pengunjung ke Pantai Mayangkara juga diving selain menikmati keindahan pantainya. “Biasanya dulu klub penyelam dari PT Petrokimia Gresik sering menyelam ke Pantai Mayangkara ini,” katanya.
Pasir-pasir di pantai yang berada di Desa Kepuh Teluk Kec. Tambak ini banyak diambil warga setempat untuk bangunan. Selain itu, dulu di Pantai Mayangkara ada sebuah lapangan yang menjadi tempat camping wisatawan yang berkunjung, tapi lapangan itu sekarang hilang terkena abrasi air laut. Kendati Pantai Mayangkara saat ini kondisinya telah rusak, tapi terumbu karang yang berada di pantai tersebut masih utuh, kata Efendy.
Ada lagi pantai yang sering dikunjungi wisatawan, yaitu pantai pasir putih di Desa Sukaoneng Kec. Tambak. “Di sana kondisi pantainya masih sangat bagus, tapi tidak mendapat perhatian dari pemerintah, jalan menuju pantai pasir putih Sukaoneng itu adalah jalan setapak. Sekitar dua kilometer kita harus jalan kaki, dulu masih bisa dilewati sepeda motor, tapi sekarang sudah rusak parah dan harus jalan kaki,” tandas Efendy.
Seluruh laut di Pulau Bawean adalah paket pariwisata, khususnya taman lautnya, tapi sayang pemerintah setempat seakan mengabaikan potensi andalan yang mestinya bisa seperti Bali jika digarap dengan serius. “Untuk menikmati terumbu karang wisatawan biasanya membawa alat selam sendiri, pemerintah tidak menyediakan fasilitas ini, jadi tidak semua wisatawan bisa menikmati keindahan terumbu karang yang mengelilingi Pulau Bawean,” ungkap Efendy.
Sayangnya keindahan Bawean tak didukung infrastruktur bagus. Jalan lingkar Bawean sepanjang 56 kilomater sekitar 80 persen rusak parah. Tidak ada lagi aspal, hanya bebatuan terjal yang banyak ditemukan di jalan utama Bawean itu. Kondisinya justru jauh lebih bagus jalan-jalan poros desa.
Listrik di Bawean pun bergiliran, bahkan di sejumlah daerah hingga kini ada yang belum teraliri listrik dari PLN. Di wilayah kota, seperti Sangkapura dan Tambak, listriknya dua hari menyala satu hari padam. Saat listrik giliran menyala pun tidak 24 jam penuh, hanya 16,5 jam menyala mulai 15.30 hingga pukul 10.00.
Untuk menikmati pantai Pulau Bawean ada beberapa cara yang bisa ditempuh, naik speadboad, jalan kaki, atau menggunakan kendaraan darat jika hanya ingin menikmati pantai-patai tertentu. Apabila mengendarai speadboad membutuhkan waktu sehari untuk bisa menikmati pantai di Bawean.
Jika mengendarai kendaraan darat, pengunjung harus menyewa mobil atau sepeda motor, sebab di Bawean angkutan umum terbatas. Biasanya, angkutan umum hanya beroperasi hingga pukul sepuluh pagi, atau apabila ada kedatangan kapal. Jika menyewa mobil ongkosnya sekitar Rp 400 ribuan sehari. Biaya sewa sepeda motor lebih murah, hanya Rp 25 ribu per hari.
Sebenarnya, jika wisatawan ingin menikmati pantai Bawean secara utuh, harus ditembuh dengan jalan kaki menyisiri pantai, jika ditempuh dengan jalan kaki menghabiskan waktu dua hari dua malam, artinya harus membawa peralatan camping dan persediaan makanan.
Laut di dekat Pulau Bawean berpotesi menjadi wisata diving. Keindahannya seperti Bunaken.
Pelabuhan kecil Pulau Bawean itu terlihat sibuk. Tukang perahu mengantar sejumlah turis menyeberang. Mereka menuju Pulau Gili dan Noko. Di Gili menyelam untuk melihat terumbu karang. Sedangkan di Pulau Nongko menikmati kehangatan pasir putih.
”Banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bawean untuk menikmati keindahan pantai dan terumbu karangnya. Pulau Bawean hingga saat ini masih dikelilingi terumbu karang yang menakjubkan,” kata Kepala UPT Pariwisata Bawean, Sulaiman Efendy.
”Berdasarkan penelitian dari perguruan tinggi ITS Surabaya beberapa tahun lalu, keindahan terumbu karang yang mengelilingi Pulau Bawean tidak kalah dengan terumbu karang yang ada di Bunaken,” katanya.
Saat ini yang menjadi jujukan para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berniat menikmati terumbu karang adalah di pantai Pulau Gili, salah satu pulau kecil berada di sebelah barat pulau Bawean. Menurut Efendy, Pulau yang hanya bisa dijangkau dengan menaiki perahu itu pantai pasir putihnya sangat indah dan bersih.
”Kalau pagi ada perahu yang melayani warga Pulau Gili ke pasar di Pulau Bawean, ongkosnya Rp 5.000 sekali seberang, tapi jika kita hendak menyewa perahu biayanya sekitar Rp 100 ribu. Keberadaannya yang berada di tengah laut inilah yang semakin mempercantik Pulau Gili,” kata Efendy sambil menambahkan jika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor sekitar awal bulan April lalu penelitian terumbu karang di laut-laut Bawean.
Selain di Pulau Gili, setiap tiga bulan sekali terkadang ada turis dari mancanegara yang datang untuk menyelam di laut sekitar Pulau Noko, pulau kecil berada di tenggara Pulau Bawean. Biasanya mereka berasal dari Kanada dan Australia. Terakhir, adalah mahasiswa dari Autralisa. “Ketika kami ajak berenang di pantai Pulau Noko, mereka enggan diajak pulang, katanya air laut di Pulau Noko belum tercemar, makanya mereka betah berlama-lama,” kata Efendy.
Dia menambahkan, para mahasiswa itu juga mandi matahari atau berjemur di Pulau Noko. “Tapi saat berenang dan berjemur mereka tidak mengenakan bikini seperti di Bali, mereka menghormati warga setempat yang memang enggan dimasuki kebiasaan-kebiasaan seperti itu, religiusitas masyarakat Bawean sangat kental. Mrereka mengenakan baju renang terusan, jika memakai bikini mereka bakal dilarang berenang atau berjemur oleh warga.”
Efendy menambahkan, Pantai Mayangkara yang saat ini telah rusak karena tidak ada perhatian dari pemerintah sbelumnya juga ramai dikunjungi wisatawan, seperti umumnya di pantai-pantai yang ada di Bawean, pengunjung ke Pantai Mayangkara juga diving selain menikmati keindahan pantainya. “Biasanya dulu klub penyelam dari PT Petrokimia Gresik sering menyelam ke Pantai Mayangkara ini,” katanya.
Pasir-pasir di pantai yang berada di Desa Kepuh Teluk Kec. Tambak ini banyak diambil warga setempat untuk bangunan. Selain itu, dulu di Pantai Mayangkara ada sebuah lapangan yang menjadi tempat camping wisatawan yang berkunjung, tapi lapangan itu sekarang hilang terkena abrasi air laut. Kendati Pantai Mayangkara saat ini kondisinya telah rusak, tapi terumbu karang yang berada di pantai tersebut masih utuh, kata Efendy.
Ada lagi pantai yang sering dikunjungi wisatawan, yaitu pantai pasir putih di Desa Sukaoneng Kec. Tambak. “Di sana kondisi pantainya masih sangat bagus, tapi tidak mendapat perhatian dari pemerintah, jalan menuju pantai pasir putih Sukaoneng itu adalah jalan setapak. Sekitar dua kilometer kita harus jalan kaki, dulu masih bisa dilewati sepeda motor, tapi sekarang sudah rusak parah dan harus jalan kaki,” tandas Efendy.
Seluruh laut di Pulau Bawean adalah paket pariwisata, khususnya taman lautnya, tapi sayang pemerintah setempat seakan mengabaikan potensi andalan yang mestinya bisa seperti Bali jika digarap dengan serius. “Untuk menikmati terumbu karang wisatawan biasanya membawa alat selam sendiri, pemerintah tidak menyediakan fasilitas ini, jadi tidak semua wisatawan bisa menikmati keindahan terumbu karang yang mengelilingi Pulau Bawean,” ungkap Efendy.
Sayangnya keindahan Bawean tak didukung infrastruktur bagus. Jalan lingkar Bawean sepanjang 56 kilomater sekitar 80 persen rusak parah. Tidak ada lagi aspal, hanya bebatuan terjal yang banyak ditemukan di jalan utama Bawean itu. Kondisinya justru jauh lebih bagus jalan-jalan poros desa.
Listrik di Bawean pun bergiliran, bahkan di sejumlah daerah hingga kini ada yang belum teraliri listrik dari PLN. Di wilayah kota, seperti Sangkapura dan Tambak, listriknya dua hari menyala satu hari padam. Saat listrik giliran menyala pun tidak 24 jam penuh, hanya 16,5 jam menyala mulai 15.30 hingga pukul 10.00.
Untuk menikmati pantai Pulau Bawean ada beberapa cara yang bisa ditempuh, naik speadboad, jalan kaki, atau menggunakan kendaraan darat jika hanya ingin menikmati pantai-patai tertentu. Apabila mengendarai speadboad membutuhkan waktu sehari untuk bisa menikmati pantai di Bawean.
Jika mengendarai kendaraan darat, pengunjung harus menyewa mobil atau sepeda motor, sebab di Bawean angkutan umum terbatas. Biasanya, angkutan umum hanya beroperasi hingga pukul sepuluh pagi, atau apabila ada kedatangan kapal. Jika menyewa mobil ongkosnya sekitar Rp 400 ribuan sehari. Biaya sewa sepeda motor lebih murah, hanya Rp 25 ribu per hari.
Sebenarnya, jika wisatawan ingin menikmati pantai Bawean secara utuh, harus ditembuh dengan jalan kaki menyisiri pantai, jika ditempuh dengan jalan kaki menghabiskan waktu dua hari dua malam, artinya harus membawa peralatan camping dan persediaan makanan.
Rusa Bawean
Rusa Bawean (Axis kuhli)
Rusa Bawean (Axis kuhli) merupakan spesies asli (endemik) Pulau Bawean, Jawa Timur. Habitatnya tersebar di pulau seluas 180 kilometer persegi itu. Di antara hewan jenis rusa atau menjangan lainnya, rusa bawean tergolong bertubuh kecil. Tinggi tubuhnya berkisar antara 60 sentimeter hingga 70 sentimeter dan panjang badan antara 105 sentimeter sampai 115 sentimeter. Bobot tubuh hewan berkulit cokelat tersebut berkisar antara 15 kilogram sampai 25 kilogram untuk rusa betina, sedangkan rusa jantan memiliki berat 19 kilogram sampai 30 kilogram.
Ukuran tubuh yang mungil itu menjadikan rusa bawean lincah dan dikenal sebagai pelari ulung terutama saat hewan itu akan disergap mangsa. Selain tubuh yang mungil, ada ciri fisik khas lainnya yang melekat pada rusa bawean, yakni memiliki ekor dengan panjang berkisar 20 sentimeter yang berwarna cokelat dan keputihan pada bagian lipatan dalam.
Ciri khas lainnya ialah bulu tubuh didominasi warna cokelat pendek kecuali bagian leher dan sekitar mata berwarna putih terang. Warna bulu di sekitar mulut lebih terang dibandingkan dengan muka. Bulu pada rusa bawean yang masih kanak-kanak berbeda dengan rusa dewasa. Anak rusa bawean memiliki bulu yang bertotol-totol, namun seiring bertambahnya umur “noktah” itu akan hilang dengan sendirinya.
Posisi tubuh rusa bawean terkesan menunduk seperti kijang. Penyebabnya, bahu bagian depan rusa bawean lebih rendah dibandingkan dengan bahu bagian belakang. Sebagaimana golongan rusa, ranggah atau tanduk pada rusa bawean hanya dimiliki oleh rusa jantan. Ranggah itu tumbuh saat rusa berusia delapan bulan.
Pada awalnya, ranggah berupa tonjolan yang berada di samping dahi lalu tumbuh memanjang lengkap bercabang tiga pada usia 20 sampai 30 bulan. Ranggah rusa tidak langsung menjadi tanduk tetap tetapi sebelumnya mengalami proses patah tanggal untuk digantikan dengan tanduk baru. Ketika rusa bawean menginjak umur tujuh tahun, ranggah yang tadinya masih dalam proses pergantian kemudian akan menetap dan tidak lagi patah tanggal.
Rusa Bawean (Axis kuhli) termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:
1. Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
2. Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
3. Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2)
Rusa Bawean (Axis kuhli) merupakan spesies asli (endemik) Pulau Bawean, Jawa Timur. Habitatnya tersebar di pulau seluas 180 kilometer persegi itu. Di antara hewan jenis rusa atau menjangan lainnya, rusa bawean tergolong bertubuh kecil. Tinggi tubuhnya berkisar antara 60 sentimeter hingga 70 sentimeter dan panjang badan antara 105 sentimeter sampai 115 sentimeter. Bobot tubuh hewan berkulit cokelat tersebut berkisar antara 15 kilogram sampai 25 kilogram untuk rusa betina, sedangkan rusa jantan memiliki berat 19 kilogram sampai 30 kilogram.
Ukuran tubuh yang mungil itu menjadikan rusa bawean lincah dan dikenal sebagai pelari ulung terutama saat hewan itu akan disergap mangsa. Selain tubuh yang mungil, ada ciri fisik khas lainnya yang melekat pada rusa bawean, yakni memiliki ekor dengan panjang berkisar 20 sentimeter yang berwarna cokelat dan keputihan pada bagian lipatan dalam.
Ciri khas lainnya ialah bulu tubuh didominasi warna cokelat pendek kecuali bagian leher dan sekitar mata berwarna putih terang. Warna bulu di sekitar mulut lebih terang dibandingkan dengan muka. Bulu pada rusa bawean yang masih kanak-kanak berbeda dengan rusa dewasa. Anak rusa bawean memiliki bulu yang bertotol-totol, namun seiring bertambahnya umur “noktah” itu akan hilang dengan sendirinya.
Posisi tubuh rusa bawean terkesan menunduk seperti kijang. Penyebabnya, bahu bagian depan rusa bawean lebih rendah dibandingkan dengan bahu bagian belakang. Sebagaimana golongan rusa, ranggah atau tanduk pada rusa bawean hanya dimiliki oleh rusa jantan. Ranggah itu tumbuh saat rusa berusia delapan bulan.
Pada awalnya, ranggah berupa tonjolan yang berada di samping dahi lalu tumbuh memanjang lengkap bercabang tiga pada usia 20 sampai 30 bulan. Ranggah rusa tidak langsung menjadi tanduk tetap tetapi sebelumnya mengalami proses patah tanggal untuk digantikan dengan tanduk baru. Ketika rusa bawean menginjak umur tujuh tahun, ranggah yang tadinya masih dalam proses pergantian kemudian akan menetap dan tidak lagi patah tanggal.
Rusa Bawean (Axis kuhli) termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:
1. Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
2. Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
3. Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2)
Ciri Khas Bawean
Media Bawean, 4 Maret 2009
Produk tikar dari Pulau Bawean memiliki ciri khas berbeda dengan daerah lain, utama kwalitas anyamannya lebih terjamin. Kekuatan tikar Bawean sampai puluhan tahun, bila dipakai dan dijaga dengan baik.
Ciri khas lainnya, adalah memiliki warna yang cukup indah bila dipandang dengan mata, yaitu punya nilai seni cukup tinggi. Bahan dasar tikar Bawean adalah tumbuhan pandan.
Di Pulau Bawean pusat anyaman tikar terletak di desa Gunung teguh Sangkapura, sedangkan di kampung lainnya juga masih banyak yang sehari-harinya kerja menganyam tikar.
Saat PBS berkunjung ke Pulau Bawean beberapa bulan yang lalu, sempat berkunjung ke pusat pembuatan anyaman tikar di Gunung teguh. Sudah kebiasaan warga Bawean, bila ingin memberikan oleh-oleh adalah tikar.(bst)
Produk tikar dari Pulau Bawean memiliki ciri khas berbeda dengan daerah lain, utama kwalitas anyamannya lebih terjamin. Kekuatan tikar Bawean sampai puluhan tahun, bila dipakai dan dijaga dengan baik.
Ciri khas lainnya, adalah memiliki warna yang cukup indah bila dipandang dengan mata, yaitu punya nilai seni cukup tinggi. Bahan dasar tikar Bawean adalah tumbuhan pandan.
Di Pulau Bawean pusat anyaman tikar terletak di desa Gunung teguh Sangkapura, sedangkan di kampung lainnya juga masih banyak yang sehari-harinya kerja menganyam tikar.
Saat PBS berkunjung ke Pulau Bawean beberapa bulan yang lalu, sempat berkunjung ke pusat pembuatan anyaman tikar di Gunung teguh. Sudah kebiasaan warga Bawean, bila ingin memberikan oleh-oleh adalah tikar.(bst)
maKanaN Khas baweaN
Makanan Khas Bawean
Rujak Makanan Khas Pulau Bawean
Makanan khas Pulau Bawean setiap pagi adalah rujak, yaitu percampuran lontong dengan sayur mayur. Dari dulu sampai sekarang, rujak tidak pernah luntur aebagai makanan khas dari Pulau Bawean.Harganya cukup murah antara Rp. 1.000 sampai Rp. 2.000. Mau mencoba, silahkan datang ke Pulau Bawean. (bst)
Macam-macam makanan khas bawean
Menu-menu yang disajikan berupa masakan kampung khas Bawean, namun warung ini juga menyediakan masakan lainnya, seperti chiness food dan masakan Jawa yang umum.
“Kami akan mengobati rasa rindu warga Bawean yang ada di Batam dengan menu-menu khas Bawean, tentunya dengan resep yang istimewa,” ujar Uul, pemilik Warung Bawean ini, yang didampingi suaminya, Iping, Rabu (21/4).
Warung makan Bawean milik pasangan suami istri asal Bengkosobung, Sangkapura, Bawean ini merupakan yang ke dua, sebelumnya warung Bawean Bebekaran milik Tutun – Heri hadir di Seipanas. Namun sayang, pemiliknya kini pindah ke Jakarta dan warungnyapun tutup.
Warung Bawean Bu Uul, menyediakan menu Sapit, paes – paes, Pendeng asat, pendeng koah, Opor, Kellapate, Gherangasem, Kella – kella, Nase’ koah, Nasi kuning, Nasi Benge (pandan), dan Nasi Samin.
Sedangkan menu umumnya antara lain, Nasi campur, Ayam Penyet, Mie goreng, Mie Siram, Mie Kuah, Bihun (goreng, siram, kuah), Kwetio (goreng, siram, kuah), dan Seafood.
Ruko dua lantai ini terletak di Jalan Engku Putri, Batam Centre. Dari pelabuhan fery Batam Centre hanya berjarak duaratus meteran, tepatnya di seberang Sekolah Kalista. Buka dari pagi hingga malam. “Nasi kuah (nase’ koah) merupakan menu sarapan pagi andalan kami, silahkan datang kami akan buka mulai jam enam an,” promosi Uul.
Nase’ koah merupakan menu sarapan yang disajikan dengan daun pisang, nasi yang dikombinasikan dengan ikan tongkol atau benggol yang dimasak gherangasem, lalu dikuahi dengan opor (opornya bisa nangka atau rebung), jika suka pedas tinggal ditambahi sambal terasi yang dibumbui.Rasanya? mmmhhh..dijamin maknyus! penasaran? silahkan coba.
Nase’ koah bagi orang Bawean terutama yang berasal dari Sangkapura, sudah tidak asing lagi. Karena rata-rata orang Sangkapura setiap pagi sarapannya ya nase’ koah atau nasi kuning atau nasi pandan. Bengkosobung merupakan kampung yang paling banyak penjual nase’ koah, salah satunya adalah ibunya Uul.
Rujak Makanan Khas Pulau Bawean
Makanan khas Pulau Bawean setiap pagi adalah rujak, yaitu percampuran lontong dengan sayur mayur. Dari dulu sampai sekarang, rujak tidak pernah luntur aebagai makanan khas dari Pulau Bawean.Harganya cukup murah antara Rp. 1.000 sampai Rp. 2.000. Mau mencoba, silahkan datang ke Pulau Bawean. (bst)
Macam-macam makanan khas bawean
Menu-menu yang disajikan berupa masakan kampung khas Bawean, namun warung ini juga menyediakan masakan lainnya, seperti chiness food dan masakan Jawa yang umum.
“Kami akan mengobati rasa rindu warga Bawean yang ada di Batam dengan menu-menu khas Bawean, tentunya dengan resep yang istimewa,” ujar Uul, pemilik Warung Bawean ini, yang didampingi suaminya, Iping, Rabu (21/4).
Warung makan Bawean milik pasangan suami istri asal Bengkosobung, Sangkapura, Bawean ini merupakan yang ke dua, sebelumnya warung Bawean Bebekaran milik Tutun – Heri hadir di Seipanas. Namun sayang, pemiliknya kini pindah ke Jakarta dan warungnyapun tutup.
Warung Bawean Bu Uul, menyediakan menu Sapit, paes – paes, Pendeng asat, pendeng koah, Opor, Kellapate, Gherangasem, Kella – kella, Nase’ koah, Nasi kuning, Nasi Benge (pandan), dan Nasi Samin.
Sedangkan menu umumnya antara lain, Nasi campur, Ayam Penyet, Mie goreng, Mie Siram, Mie Kuah, Bihun (goreng, siram, kuah), Kwetio (goreng, siram, kuah), dan Seafood.
Ruko dua lantai ini terletak di Jalan Engku Putri, Batam Centre. Dari pelabuhan fery Batam Centre hanya berjarak duaratus meteran, tepatnya di seberang Sekolah Kalista. Buka dari pagi hingga malam. “Nasi kuah (nase’ koah) merupakan menu sarapan pagi andalan kami, silahkan datang kami akan buka mulai jam enam an,” promosi Uul.
Nase’ koah merupakan menu sarapan yang disajikan dengan daun pisang, nasi yang dikombinasikan dengan ikan tongkol atau benggol yang dimasak gherangasem, lalu dikuahi dengan opor (opornya bisa nangka atau rebung), jika suka pedas tinggal ditambahi sambal terasi yang dibumbui.Rasanya? mmmhhh..dijamin maknyus! penasaran? silahkan coba.
Nase’ koah bagi orang Bawean terutama yang berasal dari Sangkapura, sudah tidak asing lagi. Karena rata-rata orang Sangkapura setiap pagi sarapannya ya nase’ koah atau nasi kuning atau nasi pandan. Bengkosobung merupakan kampung yang paling banyak penjual nase’ koah, salah satunya adalah ibunya Uul.
Senin, 29 November 2010
PULAU BAWEAN
Pulau Bawean
Bawean adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa, sekitar 150 kilometer sebelah utara Pulau Jawa. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur.Bawean memiliki 2 kecamatan yaitu Sangkapura dan Tambak. Jumlah penduduknya sekitar 70.000 jiwa, kebanyakan memiliki mata pencaharian sebagai nelayan atau petani selain juga menjadi TKI di Malaysia dan Singapura. Etnis mayoritas penduduk Bawean adalah Suku Bawean, diikuti oleh Suku Jawa, Madura dan suku-suku lain misalnya Bugis dan Mandailing.
Bahasa pertuturan mereka adalah bahasa Bawean. Bukannya bahasa Madura seperti yg dimaklumkan sebelum ini. Bangsa Madura adalah bangsa pendatang di kepulauan Bawean.
Di Malaysia dan Singapura, penyebutan suku ini berubah menjadi Boyan. Mereka menyebut diri mereka orang Boyan, maksudnya orang Bawean.
Etimologi
Kata Bawean berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti ada sinar matahari. Menurut legenda, sekitar tahun 1350, sekelompok pelaut dari Kerajaan Majapahit terjebak badai di Laut Jawa dan akhirnya terdampar di Pulau Bawean pada saat matahari terbit. Awal abad ke-16, agama Islam masuk ke Bawean yang dibawa oleh Maulana Umar Mas'ud. Makamnya hingga kini merupakan tujuan peziarah lokal maupun dari luar Bawean.Makam Umar Mas'ud berada di wilayah Sangkapura yang terletak di pantai selatan pulau tersebut. Sedang di pantai utara, tepatnya di desa Diponggo ada kuburan seorang ulama wanita penyebar Islam di daerah itu, namanya Waliyah Zainab, terletak di atas dataran tinggi Sumber.Pulau Putri
Bawean sering disebut juga Pulau Putri karena banyak laki-laki muda yang merantau ke pulau Jawa atau ke luar negeri. Orang Bawean yang merantau ke Malaysia dan Singapura membentuk perkampungan di sana. Di negeri jiran masyarakat Bawean dikenal dengan istilah orang Boyan. Banyak juga para perantau ini yang berhasil dan menjadi orang terkenal di IndonesiaGeografi
Diameter pulau Bawean kira-kira 12 kilometer dan jalan yang melingkari pulau ini kira-kira panjangnya 70km dan bisa ditempuh dalam waktu 1-2 jam. Bawean memiliki atraksi pariwisata yang cukup menawan, terutama pantai-pantainya. Ada juga sebuah danau yang terletak tepat di tengah-tengah pulau bernama Danau Kastoba. Beberapa pulau kecil ("gili") juga tidak kalah menarik untuk dikunjungi.Flora dan Fauna
Di Bawean terdapat spesies rusa yang hanya ditemukan (endemik) di Bawean, yaitu Axis kuhli. Selain itu di Pulau Bawean juga ditanam manggis, salak, buah merah, dan durian untuk konsumsi lokal. Puluhan spesies ikan laut juga terdapat di pantai pulau ini.Lain-lain
Mayoritas penduduk Bawean beragama Islam, sedangkan penduduk non-Muslim biasanya adalah para pendatang. Yang khas dari Bawean adalah batu onyx. Sejenis batu marmer. Batu ini dijadikan hiasan dan juga lantai. Selain itu juga ada "buah merah". Ini berbeda dengan buah merah asli papua. Bentuknya bulat seperti apel. Namun ada yang seperti ini di Magetan tapi warnanya agak kuning.
Langganan:
Komentar (Atom)








